Kamis, 05 Agustus 2010

Website rucitoys.com

Dengan Rahmat Alloh, yang Maha Kuasa, dan Syukur akhirnya rucitoys.com bisa diselesaikan, walaupun dengan banyak kekurangan di sana sini.

Silahkan mengunjungi www.rucitoys.com dan masukan kritik membangun sangat kami harapkan.

Kami kumpulkan juga cerita-cerita heroik perjuangan kekuatan laut kita, jaman perjuangan kemerdekaan.

Untuk komunikasi yang lebih familier, bisa joint di facebook rucitoys.

Dan akhirnya "Justru Dialu Bangsa Indonesia Jaya"

Selasa, 17 November 2009

PENGUMUMAN PEMENANG Kesempatan Test Drive Produk Perdana RuciToys.com.

Hi teman-teman Ruci, aku sangat berterima kasih atas animo yang sangat besar dari teman-teman dan partisipasinya dalam acara Test Drive produk perdana Ruci.

Ingin rasanya Ruci memberikan modelkit gratis kepada semua tema-teman yang mendaftar, tapi memang untuk kesempatan ini baru 10 orang yang berkesempatan. Semoga yang lainnya bisa merasakan test drive Ruci untuk produk-produk selanjutnya…so keep in touch please…...

Kepada teman-teman Ruci yang terpilih aku ucapkan SELAMAT..!! SELAMAT..!! SELAMAT..!!, Nama Anda akan terukir indah di sejarah modelkit Indonesia.

Teman-teman akan dihubungi oleh Team Ruci untuk memastikan kejelasan alamat yang teman-teman berikan. Dan model kit akan segera dikirim ke alamat teman-teman.

Produk pertama Model Kit Ruci adalah Kapal Perang Republik Indonesia monumental dengan Nomor Lambung 410, KRI Pasopati. Ini adalah salah satu kapal selam kita yang memiliki daftar tugas sangat panjang dalam menjaga keutuhan NKRI. Sekarang diabadikan menjadi Monumen Kapal Selam di Surabaya.

Untuk sementara toko online www.RuciToys.com masih trial, Pembelian mulai bisa dilakukan secara online pada tanggal 5 Desember bertepatan dengan Hari Armada dan tentu saja hari kelahiranku.

Kalau teman-teman ingin tahu lebih dalam tentang sejarah, persenjataan dan cerita-cerita heroic dibalik kapal-kapal tersebut bisa di gali lebih dalam di blog-ku www.RuciToys.blogspot.com

Jadilah FANS Ruci di Facebook & Twitter agar teman-teman bisa berbagi foto-foto proses pembuatan modelkit maupun hasil jadinya, juga berbagi tautan atau komentar dan masukan untuk Ruci.

Saran, ide dan masukan yang membangun juga akan terus Ruci tunggu…
Punya pertanyaan atau ide yang ingin disampaikan? Kirim aja ke ruci.toys@gmail.com ..

Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai….



Salam,

Ruci


Berikut nama-nama yang terpilih :

Selasa, 10 November 2009

Ibu Soed

“Beramai-Ramai Ke Laut”

Nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak, tiada takut
menempuh badai, sudah biasa

Angin bertiup, layar berkembang
Ombak berdebur ditepi pantai
Pemuda b’rani, bangkit sekarang
ke laut kita, beramai-ramai

Lirik lagu diatas sudah tidak asing ditelinga kita. Lirik lagu tersebut menceritakan bahwanenek moyang kita adalah seorang pelaut yang tangguh dan pemberani. Lagu ini juga mengajak kita untuk kembali ke laut, potensi luar biasa yang dimiliki Indonesia. Lirik lagu diatas diciptakan oleh Ibu Soed.

Saridjah Niung (lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Maret 1908 - meninggal tahun 1993 dalam umur 85 tahun; lebih dikenal sebagai Saridjah Niung Bintang Soedibjo setelah menikah dan lebih dikenal dengan nama Ibu Soed) adalah seorang pemusik, guru musik, pencipta lagu anak-anak, penyiar radio, dramawan dan seniman batik Indonesia. Lagu-lagu yang diciptakan Ibu Soed sangat terkenal di kalangan pendidikan Taman Kanak-kanak Indonesia.

Latar Belakang
Kemahiran Saridjah di bidang musik, terutama bermain biola, sebagian besar dipelajari dari ayah angkatnya, Prof. Dr. Mr. J.F. Kramer, seorang pensiunan Wakil Ketua Hoogerechtshof (Kejaksaan Tinggi) di Jakarta pada masa itu, yang selanjutnya menetap di Sukabumi dan mengangkatnya sebagai anak. J.F. Kramer adalah seorang indo-Belanda beribukan keturunan Jawa ningrat, latar belakang inilah yang membuat Saridjah dididik untuk menjadi patriotis dan mencintai bangsanya.
Saridjah lahir sebagai putri bungsu dari dua belas orang bersaudara. Ayah kandung Saridjah adalah Mohamad Niung, seorang pelaut asal Bugis yang menetap lama di Sukabumi kemudian menjadi pengawal J.F. Kramer.
Selepas mempelajari seni suara, seni musik dan belajar menggesek biola hingga mahir dari ayah angkatnya, Saridjah melanjutkan sekolahnya di Hoogere Kweek School (HKS) Bandung untuk memperdalam ilmunya di bidang seni suara dan musik. Setelah tamat, ia kemudian mengajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Dari sinilah titik tolak dasar Saridjah untuk mulai mengarang lagu. Pada tahun 1927, ia menjadi Istri R. Bintang Soedibjo, dan ia pun kemudian dikenal dengan panggilan Ibu Soed, singkatan dari Soedibjo.

Karir
Ibu Soed dikenal sebagai tokoh musik tiga zaman (Belanda, Jepang, Indonesia). Karirnya di bidang musik bahkan sudah dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Suaranya pertama kali disiarkan dari radio NIROM Jakarta periode 1927-1928.
Setelah menamatkan pendidikan di HKS Bandung, Ibu Soed kemudian menjadi guru musik di HIS Petojo, HIS Jalan Kartini, dan HIS Arjuna yang masih menggunakan Bahasa Belanda (1925-1941). Ia prihatin melihat anak-anak Indonesia yang tampak kurang gembira saat itu. Hal ini membuat Ibu Soed berpikir untuk menyenangkan mereka dengan bernyanyi lagu ceria. Didorong rasa patriotisnya, Ibu Soed ingin mengajar mereka untuk menyanyi dalam Bahasa Indonesia. Dari sinilah Ibu Soed mulai menciptakan lagu-lagu yang bersifat ceria dan patriotik untuk anak-anak Indonesia.
Selain mencipta lagu Ibu Soed juga pernah menulis naskah sandiwara dan mementaskannya. Operette Balet Kanak-kanak Sumi di Gedung Kesenian Jakarta di tahun 1955 bersama Nani Loebis Gondosapoetro sebagai penata tari dan RAJ Soedjasmin sebagai penata musiknya.
Saat aktif sebagai anggota organisasi Indonesia Muda tahun 1926, Ibu Soed juga membentuk grup Tonil Amatir yang dipentaskan untuk menggalang dana untuk acara penginapan mahasiswa Club Indonesia. Aktivitasnya tidak hanya menonjol sebagai guru dan aktivis organisasi pemuda, tetapi juga berperan dalam berbagai siaran radio sebagai pengasuh siaran anak-anak (1927-1962).
Oleh karena reputasinya yang aktif dalam pergerakan Nasional saat itu, pada tahun 1945 Ibu Soed pernah menjadi sasaran aksi penggeledahan oleh pasukan Belanda. Rumah Ibu Soed di Jalan Maluku No. 36 Jakarta saat itu sudah dikepung oleh pasukan Belanda, namun tetangga Ibu Soed yang seorang Belanda meyakinkan mereka bahwa mereka salah sasaran, karena profesi Ibu Soed hanyalah pencipta lagu dan suaminya hanyalah pedagang. Walaupun selamat dari penggeledahan tersebut, Ibu Soed dan seorang pembantu tetap harus bersusah payah membuang pemancar radio gelap ke dalam sumur.
Ibu Soed juga dikenal piawai dalam seni batik. Atas karya dan pengabdiannya, Ia menerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah Indonesia dan MURI.

Kehidupan pribadi
Ibu Soed menikah dengan R. Bintang Soedibjo, seorang pengusaha pada tahun 1927. Pada tahun 1954, R. Bintang Soedibjo tertimpa musibah kecelakaan pesawat BOAC di Singapura. Di usia tuanya, Ibu Soed hidup ditemani cucu dan cicitnya. Ia bertekad untuk tetap menciptakan lagu dan membatik tanpa mempedulikan usia. Meskipun bukan pengusaha batik, Ia ingin tetap menghargai nilai seni di balik budaya nasional tersebut. Di hari tuanya ia juga masih gemar berolah raga jalan kaki setiap pagi sekitar tiga kilometer. Ibu Soed tutup usia pada tahun 1993, di usia 85 tahun.

Peran dalam pergerakan nasional Indonesia
Sebagai pemusik yang mahir memainkan biola, Ibu Soed turut mengiringi lagu Indonesia Raya bersama W.R. Supratman saat lagu itu pertama kali dikumandangkan dalam acara Sumpah Pemuda di Gedung Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928. Lagu-lagu patriotik yang diciptakannya diilhami peristiwa yang terjadi dalam acara bersejarah tersebut. Di tahun-tahun perjuangan, Ibu Soed juga bersahabat dengan Cornel Simanjuntak, Ismail Marzuki, Kusbini, dan tokoh-tokoh nasionalis lain.

Kontribusi Pada Musik Indonesia
Banyak lagu Ibu Soed yang menjadi lagu populer abadi, beberapa antara lain: Hai Becak, Burung Kutilang, dan Kupu-kupu. Ketika genting rumah sewaannya di Jalan Kramat, Jakarta, bocor, ia membuat lagu Tik Tik Bunyi Hujan. Lagu wajib nasional yang dia ciptakan adalah Berkibarlah Benderaku dan Tanah Airku. Lagu-lagunya yang lain banyak yang juga telah menjadi populer, a.l. Nenek Moyang, Lagu Gembira[2], Kereta Apiku, Lagu Bermain, Menanam Jagung, Pergi Belajar, Himne Kemerdekaan, dll.
Lagu-lagu Ibu Soed, menurut Pak Kasur, salah seorang rekannya yang juga tokoh pencipta lagu anak-anak, selalu mempunyai semangat patriotisme yang tinggi. Sebagai contoh, patriotisme terdengar sangat kental dalam lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu itu diciptakan Ibu Soed setelah melihat kegigihan Jusuf Ronodipuro, seorang pimpinan kantor RRI menjelang Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947, dimana Jusuf menolak untuk menurunkan Bendera Merah Putih yang berkibar di kantor RRI, walaupun dalam ancaman senjata api pasukan Belanda.
Semangat cinta tanah air juga terukir sangat dalam di lagu Tanah Airku:
Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Lagu Anak-Anak
Ibu Soed selalu menciptakan lagu khusus untuk anak-anak. Ia memperkirakan telah menciptakan lebih dari 200 lagu, walau hanya separuh yang bisa terselamatkan dan bertahan sampai sekarang. Jauh sebelum meninggal, Ibu Soed sempat mengungkapkan perasaannya yang menyayangkan bahwa lagu anak-anak sekarang telah menjadi serba komersil.

Penghargaan
Seni Musik
Empu Lagu Anak-Anak Indonesia (MURI)
"Menciptakan 480 lagu anak-anak Indonesia, a.l. Burung Kutilang, Naik Delman, Lihat Kebunku, Kupu-Kupu, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Desaku, Hai Becak, Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih dan Tanah Airku."

Tata busana
Perintis Batik Terang Bulan Konsepsi Bung Karno (MURI)
"Mewujudkan konsepsi Bung Karno untuk menciptakan batik khas Indonesia yang diberi nama Batik Terang Bulan."


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_Sud

10 November - Hari Pahlawan

Peristiwa 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya merupakan peristiwa besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia di dalam mempertahankan kemerdekaannya. Arek-arek Suroboyo yang terdiri dari berbagai suku, lapisan dan kedudukan secara gagah berani dan dengan semangat kepahlawanannya menentang setiap keinginan dari kaum penjajah yang akan kembali merampas kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia. Dengan semboyan "Merdeka atau Mati", dengan gagah berani, arek-arek Suroboyo dengan senjata apa adanya menghadapi kekuatan penjajah yang menggunakan senjata modern. Dengan semangat rela berkorban demi nusa dan bangsa, jiwa dan raga mereka dipertaruhkan untuk tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai titik darah penghabisan.

Peristiwa Hotel Orange - Surabaya - 19 Sept 1945
Pada tanggal 19 September 1945 sekelompok orang-orang Sekutu / Belanda yang tergabung dalam Mastiff Carbolic merupakan salah satu organisasi Anglo Dutch Country Saction (ADCS) yang bergerak di bidang spionase dengan kedok Petugas / Organisasi Palang Merah Internasional beroperasi di Surabaya dan mengunjungi Markas Besar Tentara Jepang yang berkedudukan di Surabaya. Maka pada saat yang sama ada beberapa orang Belanda yang tergabung dalam Komite Kontak Sosial mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) pada tiang bendera sebelah kanan (Utara) Gapura Hotel Yamato (Orange / Mojopahit sekarang). Hal inilah yang memicu kemarahan arek-arek Suroboyo. Kemudian Resimen SUDIRMAN dengan mengendarai Mobil Sedan Hitam mendatangi Hotel Orange dan memerintahkan dengan tegas kepada Komite Perwakilan Sekutu untuk segera menurunkan bendera Belanda tersebut tetapi tidak diindahkan sama sekali. Sehingga memicu perkelahian massal yang tidak seimbang antara 20 orang sekutu/Belanda berhadapan dengan massa - rakyat / Pemuda Surabaya yang berasal dari Genteng, Embong Malang, Praban dan sekitarnya.

Akhirnya beberapa orang pemuda berhasil mendekati dan memanjat dinding serta puncak Gapura Hotel, berhasil menurunkan bendera Belanda dan menyobek bagian birunya serta menaikkan kembali bendera Merah-Putih dengan ukuran yang tidak seimbang dengan diiringi pekikan "MERDEKA", "MERDEKA", "MERDEKA", yang disambut dengan gempita oleh massa Rakyat yang berkerumun di bawah tiang bendera dan berada di depan Hotel Orange.
Tercatat dalam insiden penyobekan bendera Belanda di Hotel Orange tersebut telah gugur sebagai Kusuma Bangsa 4 (empat) orang Pemuda / Arek Suroboyo yaitu Sdr. SIDIK, Sdr. MULYADI, Sdr. HARIONO dan Sdr. MULYONO. Sedangkan dari pihak Warga Belanda Mr. Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa ditusuk senjata tajam.

Di Jakarta pada tanggal yang sama 19 September 1945 mulai pukul 10.00 pagi bertempat digedung KNIP Lapangan Banteng Jakarta (Mahkamah Agung samping Dep.Keuangan sekarang) diadakan Rapat Kabinet yang langsung dipimpin oleh Presiden Soekarno. Cukup banyak yang dibicarakan dalam rapat tersebut termasuk rencana pembentukan Bank Negara Indonesia (BNI) oleh ayahnya Prof DR Soemitro Djojohadikusumo yaitu Margono.
Tetapi ada agenda cukup penting yang rupanya dibicarakan secara khusus, yaitu berlangsungnya “Rapat Raksasa Ikada” yang penyelenggaraannya dipersiapkan dan dilaksanakan rakyat Jakarta dan sekitarnya yang dimotori Pemuda-Mahasiswa Jakarta

Peristiwa "Incident Surabaya"
Pada tanggal 30 Oktober 1945 diadakan pertemuan antara Presiden Sukarno, Wapres Moh. Hatta, Menpen Amir Syarifuddin, Gubernur Soerjo, residen Soedirman dengan Mayjen D.C. Hawthorn, pimpinan tentara Sekutu di Jakarta. Sebagai salah satu hasil pertemuan itu dibentuk suatu Kontak Komisi, yang diharapkan dapat memudahkan hubungan kedua belah pihak.Disetujui pula agar tembak-menembak oleh kedua belah pihak dihentikan.

Namun dalam kenyataannya, tembak-menembak berlangsung terus. Akhirnya diputuskan para anggota kontak Komisi turun ke lapangan. Antara lain yang dikunjungi daerah Jembatan Merah. Disitu terletak gedung Internatio, yang merupakan markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang bertugas di Surabaya. Di seberangnya, para pejuang Arek-arek Suroboyo berada di sekitar Jembatan Merah.

Tembak-menembak sering terjadi antara kedua tempat itu. Pada tanggal 30 Oktober 1945, dengan berkendaraan beberapa mobil para anggota Kontak Komisi berusaha menuju gedung Internatio, yang dituntut oleh arek Suroboyo agar dikosongkan oleh tentara Sekutu yang menurut persetujuan harus ditarik mundur ke Tanjung Perak. Di antara para anggota Komisi itu terdapat Residen Soedirman, Doel Arnowo, T.D. Kundan, Brigjen Mallaby. Hari sudah mulai gelap ketika rombongan itu melalui tempat perhentian trem listrik, yang terletak beberapa belas meter sebelah utara Jembatan Merah ke arah gedung Internatio. Di situlah mobil yang ditumpangi Brigjen Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur) terdengar mengalami ledakan sekitar jam 20.30. Ia kemudian ditemukan tewas.

Tewasnya Brigjen Mallaby itulah yang menjadi salah satu alasan bagi penggantinya sebagai panglima tentara Sekutu di Jawa Timur, Mayjen E.C. Mansergh, untuk mengeluarkan ultimatum pada tanggal 9 November 1945 agar pihak Indonesia di Surabaya meletakkan senjata selambat-lambatnya jam 06.00 tanggal 10 November 1945.

Ultimatum itu ditolak oleh pihak Indonesia dan pada pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945 tentara Inggris mulai menggempur kota Surabaya dari kapal perang, pesawat udara, serta pasukannya yang bergerak dari Tanjung Perak menuju tengah kota. Ribuan penduduk menjadi korban. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota.
Dugaan Inggris bahwa perlawanan rakyat Indonesia yang diduga dapat ditaklukkan dalam tiga hari ternyata meleset. Pertempuran besar-besaran ini ternyata memakan waktu satu bulan sebelum akhirnya seluruh kota jatuh di tangan Inggris. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban, ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.


Sumber : http://www.semestaindonesia.com/cbn/?p=313
http://swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=peristiwa_10Nopemberhttp://swaramuslim.com/galery/sejarah/index.php?page=galery-battle_surabaya

Selamat datang Di Rumah Ruci



Selamat datang teman-teman di rumah ku.


Tanggal 10 Nopember adalah hari yang sangat bersejarah bagi Bangasa Indonesia pada umumnya dan bagi aku secara khusus.


Bagi Bangsa Indonesia 10 Nopember adalah hari Pahlawan. Pada tanggal tersebut terjadi peperangan yang sangat sengit di Surabaya, yang ditandai dengan penyobekan bagian biru bendara belanda, menjadi bendara merah putih, bendra Indonesia, di atas hotel Oranje. Banyak sekali pejuang-pejuang yang gugur menjadi pahlawan saat itu.


Untuk aku 10 Nopember menjadi momen bersejarah karena pada tanggal tersebut aku melakukan soft launching situs http://www.rucitoys.com/. Disitus tersebut aku berbagi cerita, foto-foto, lirik lagu, mainan edukatif, dan pernak-pernik lainnya yang bertemakan kelautan Indonesia.


Aku sangat menunggu saran-saran membangun dari teman-teman sekalian.


Sebagai penutup ku kutip bagian terakhir lagu ibu Sud:


Pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai....